Meditasi: Operasi Tanpa Pembedahan
Filed under: Kesadaran, Meditation — gerry @ 12:04 pm
Salam Harmonis para kadhang HU-ers,
Masih seputar Meditasi dibawah ini saya kutip dari diskusi dengan Bhikkhu Dhiraratano dalam Diskusi Dhamma tanggal 29/06/2002 dari Vihara Jakarta Dhammacakka jaya (udah lama sih tapi saya rasa topiknya masih relevan untuk para hu-ers yang sibukkkk membagi waktunya)
Semoga bermanfaat dan dapat menambah wawasan kita semua
love light & blessings,
Herman
Meditasi, Operasi Tanpa Pembedahan
Tanya-Jawab:
T : Di saat meditasi kita mudah berkonsentrasi, tetapi dalam kehidupan sehari-hari sulit dilaksanakan. Mengapa bisa demikian?
J : Banyak orang yang masih beranggapan bahwa meditasi itu adalah duduk dan diam. Sesungguhnya meditasi bisa kita latih dalam setiap gerak kehidupan sehari-hari. Bhikkhu Buddhagosa dalam buku Visuddhi Magga, mendefinisikan meditasi dengan sangat jelas, yaitu ‘kusala ekagatta citta’, artinya menyatukan pikiran dengan hal-hal yang baik. Sesungguhnya itulah yang disebut meditasi, tidak hanya sekedar konsentrasi, tenang, damai, dan bahagia. Ketika kita sedang minum kalau apa yang kita kerjakan itu disertai dengan perhatian penuh, pikiran menyatu dengan apa yang sedang kita lakukan, disitulah meditasi. Jadi apapun yang kita kerjakan bisa menjadi meditasi. Jika kita melakukan segala aktifitas sehari-hari dengan perhatian, tidak sekedar melakukan saja, maka kehidupan kita akan menjadi kehidupan yang meditatif; sejak awal bangun tidur sampai menjelang tidur. Sulit seperti yang dikatakan bukan berarti tidak bisa, tetapi dari yang sulit jika kita mau berlatih terus maka kita pun juga akan bisa.
T : Mengapa kontrol pikiran dalam kehidupan sehari-hari lebih sulit?
J : Memang meditasi memerlukan satu tuntutan yaitu berlatih dan hanya berlatih. Berlatih secara intensive pada saat tertentu memang akan sangat membantu dalam praktik kehidupan sehari-hari. Kalau dalam kehidupan sehari-hari kita mendapat caci-makian, berusahalah untuk ingat dengan meditasi. Tenang, kalau perlu ingat nafas masuk nafas keluar. Dengan begitu kita telah berusaha menenangkan diri sehingga ketika kemarahan, ketidak-sukaan yang muncul dalam diri dapat terlihat, kita dapat mengontrolnya, tidak marah atau membalasnya. Selamanya kemarahan tidak akan menyelesaikan masalah. Sikap menyalahkan itu tidak akan membantu tetapi sikap untuk melihat ke dalam diri sendiri akan jauh lebih bermanfaat.
Kesehatan adalah keuntungan yang paling berharga, kita tidak akan sayang bahkan rela berapa pun biaya yang dikeluarkan untuk mendapatkan kesehatan. Benar apa yang dikatakan Sang Buddha bahwa memiliki fisik yang sehat adalah sesuatu yang diperlukan dalam kehidupan ini, tetapi sehat mental sesungguhnya jauh lebih penting daripada sehat fisik. Seorang dokter pernah mengatakan bahwa jika seseorang sudah sampai usia di atas 50 tahun, maka 75% sakit fisik yang dideritanya tidak lain disebabkan karena pengaruh mental, hanya 25% yang benar-benar sakit fisik. Ketika seseorang sudah mencapai usia itu maka sakit lever, ginjal, darah tinggi, sangat banyak dipengaruhi dan disebabkan oleh mental atau pikirannya sendiri.
Dunia kedokteran sekarang semakin canggih. Yang sakit ditawarkan dengan operasi untuk sembuh, bahkan yang tidak sakit pun supaya tampil lebih cantik ditawarkan dengan operasi juga. Kalau dalam jasmani ada sesuatu yang asing atau janggal; apakah itu kanker, batu ginjal, maka saran seorang dokter adalah segera dioperasi, angkat dan keluarkan karena itu suatu penyakit.
Tidak hanya dalam jasmani saja, ketika memiliki masalah dalam mental; bila kekecewaan, ketidakpuasan, kesedihan, kejengkelan datang, maka dengan segera kita pun berusaha untuk mencabut dan mengeluarkannya jauh-jauh, membuang semua perasaan yang tidak enak itu dari dalam diri. Cara seperti itu sesungguhnya tidak akan banyak membantu. Kalau di dalam fisik terdapat sesuatu yang asing dan menyimpang, cara pembedahan masih bisa diterima. Tetapi kalau kemudian juga berusaha untuk membuang jauh-jauh dan tidak menghendaki bahkan membenci perasaan sendiri, perasaan kecewa yang suatu saat muncul dalam diri, sesungguhnya kita akan kehilangan banyak dari apa yang bisa bermanfaat dari dalam diri kita sendiri. Kenapa demikian?
Untuk memiliki kesehatan mental tidak perlu mengikuti cara pembedahan yang sering kali ditawarkan dalam ilmu kedokteran, tetapi akan lebih bermanfaat, lebih berharga jika kita berlajar tentang seni perubahan. Mampu merubah sesuatu yang tidak baik, yang tidak berharga menjadi suatu pengertian yang berharga dalam hidup ini. Dengan memiliki kesabaran yang cukup, kesungguhan, dan perhatian penuh (sati), pada saatnya kita akan melihat bahwa kemarahan sekalipun akan berubah menjadi suatu energi yang akan bermanfaat bagi kehidupan ini.
Suatu ketika seorang pemeditasi yang intensive sekalipun akan mengalami masa-masa kebosanan. Tiap hari tidak ada saat-saat yang dilalui tanpa munculnya perasaan bosan. Mau duduk tidak enak, mau jalan bosan, bahkan ketika ia diminta untuk istirahat pun tidak bisa. Kebosanan yang muncul dalam kehidupan sehari-hari pun sesungguhnya bisa kita olah menjadi suatu pengertian atau energi yang akan bermanfaat dalam hidup ini. Perhatikanlah hal itu sungguh-sungguh dengan cukup sabar maka anda akan melihatnya berubah menjadi suatu pengertian yang benar. Seperti halnya kalau kita mempunyai kentang yang masih mentah. Apakah sesuatu yang masih mentah tidak bisa dimanfaatkan dan kemudian harus dibuang? Kita bisa mengolah kentang mentah itu, dimasak, dan bisa dimakan yang kemudian menjadi suatu energi yang berguna dalam hidup ini. Untuk bisa mendapat perubahan dari kentang mentah kemudian bisa dimakan, kita perlu api dan panci yang ada air dan tutupnya. Hal yang sama dapat kita lakukan terhadap kondisi-kondisi mental yang tidak baik apakah itu kejengkelan, kemarahan, kesedihan, takut, cemas, dan lain-lain. Kita bisa merubahnya menjadi suatu pengertian yang sangat berharga di dalam kehidupan. Cara untuk memasaknya dan mendapatkan pengertian benar (Panna), kita perlu perhatian penuh (sati) dan konsentrasi yang cukup (samadhi). Kalau samadhi saja maka yang akan muncul hanya jhana (konsentrasi yang meresap). Tetapi jika samadhi disertai dengan sati maka yang didapat adalah pengertian benar. Inilah yang bisa menjadi suatu energi dalam kehidupan.
Suatu pagi ketika seorang ibu membangunkan anaknya dengan penuh kasih sayang, tetapi yang didapatkan anaknya cuma menggeliat bahkan menendang ibunya, setelah itu kembali tidur. Kalau perasaan jengkel, marah yang muncul pada seorang ibu saat itu tidak diolah dengan baik, maka segera kemarahan itu bisa menjadi bentuk suatu perbuatan, mungkin anaknya bisa dipukul sambil marah-marah dan permasalahan tidak akan selesai. Tetapi, apabila kemudian si ibu berusaha untuk memasak kondisi mental yang marah atau jengkel itu, berusaha menyadari perasaan itu, memberikan perhatian yang sungguh-sungguh terhadap kemunculannya dan ada cukup pemusatan pikiran, maka yang muncul kemudian adalah pengertian. Mungkin suatu bentuk ingatan si ibu muncul ’semalam anak ini demam, mungkin karena sakit dia melakukan hal seperti itu’. Jika timbul pengertian demikian si ibu tidak menjadi marah. Dalam hal ini perhatian dan konsentrasi yang cukup dapat mengubahnya menjadi suatu pengertian bahkan kasih sayang.
Hal seperti itu sangat perlu untuk kita latih dan praktikkan sehingga kita tidak akan semakin jauh kehilangan kualitas mental yang sesungguhnya telah ada di dalam diri kita sendiri. Setiap orang memang menginginkan menjadi manusia yang wajar, tidak dianggap berbeda apalagi sampai mempunyai kelainan jiwa, tetapi sangat sering sekali dalam kehidupan sehari-hari kita telah berusaha membuat diri kita menjadi lain. Kejengkelan yang muncul sesungguhnya adalah hal yang wajar dan alamiah karena segala sesuatu muncul pasti ada sebabnya. Kalau kesedihan, kegagalan, dan kondisi-kondisi mental tidak baik muncul lalu ada penolakan dalam diri, tidak suka dengan kondisi tidak baik, hanya menghendaki bahagia setiap hari, justru itu bukan hal yang wajar, jika ingin bahagia dan tertawa setiap hari, maka tempat yang cocok adalah Rumah Sakit Jiwa. Sesungguhnya kondisi-kondisi mental yang tidak baik adalah harta kita sendiri. Kita belajar untuk mengubahnya menjadi berharga bukan dengan membuangnya, membencinya. Kalau kemarahan yang muncul tidak kita kehendaki, itu juga merupakan suatu penolakan, maka dalam waktu yang sama kita telah memiliki dua macam kemarahan. Oleh karena itu dengan membedahnya, membuang jauh-jauh kondisi mental yang tidak baik, dengan sendirinya telah menumbuhkan sakit mental yang baru. Inilah yang sering kali tidak kita sadari dan tidak kita pahami.
Jangan hanya mengejar kebahagiaan dan kesehatan fisik semata tetapi berusahalah juga untuk memiliki kondisi mental yang sehat. Segala sesuatu yang kita hadapi tidak hanya semata-mata memerlukan fisik yang sehat, tetapi mental yang sehat akan jauh lebih besar dalam menentukan keberhasilan di dalam menempuh kehidupan. Sering kali juga seseorang hanya memikirkan kesehatan fisik, umur panjang, dan kebahagiaan. Dia lupa bahwa ada hal yang lebih berharga yaitu kualitas dari kehidupan itu sendiri, kualitas mental atau kebijaksanaan. Hal yang harus kita mengerti bahwa jasmani ini tidak bisa terhindar total dari sakit. Meskipun ingin umur yang panjang akan tetapi berapapun lamanya hidup, dalam kehidupan ini ada satu yang pasti yaitu ‘kematian’. Meskipun menginginkan kebahagiaan setiap saat tetapi dalam kehidupan ini, terutama dalam berumah tangga, ketidak-samaan pendapat, pertentangan yang kemudian menjadi ketidak-puasan, penderitaan itu pun muncul berkali-kali.
Marilah belajar tentang seni perubahan untuk mendapatkan kualitas kehidupan, mendapatkan kebijaksanaan dalam kehidupan, dan bukan hanya sekedar sehat, umur panjang, dan kebahagiaan semata. Apabila tidak mengolah kondisi-kondisi mental yang jahat, yang kotor untuk berubah menjadi sesuatu yang bermanfaat, dengan sendirinya pikiran-pikiran itu akan mengarahkan pada ucapan dan perbuatan yang tidak baik. Oleh karena itu waspadalah dengan hal ini, sejak saat ini, dan tidak harus menunggu besok, tidak harus menunggu kapan bisa berlatih meditasi, dan tidak harus melatihnya pada saat-saat tersepi. Apakah pagi hari atau malam hari, tetapi setiap saat waspadalah ketika keinginan jahat itu mulai menarik-narik kita untuk melakuan perbuatan melalui jasmani, ucapan, dan pikiran.
Hak Cipta © 1997-2003 Vihara Jakarta Dhammacakka jaya